Belajar Sejarah

Blog pribadi untuk mendukung proses belajar sejarah bagi Guru dan Siswa Sekolah di Indonesia. Konten Blog berisikan Informasi, Soal dan Materi Sejarah


Peristiwa Rengasdengklok Terjadi karena Adanya Perbedaan Pendapat Mengenai Pelaksanaan Proklamasi

Kalian tentunya sering mendengar dari Bapak Ibu guru sejarah jika sebenarnya peristiwa rengasdengklok terjadi karena adanya perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan proklamasi antara gologan tua dan muda. Seperti apa sih lengkapnya? Di dalam artikel singkat ini Pak Handoko akan mencoba menjelaskannya.

Info Webinar Sejarah : Pertempuran Bogor-Sukabumi-Cianjur 10 Maret 1946


Dalam rangka penyebarluasan informasi terkait peristiwa bersejarah sekitar proklamasi, Museum Perumusan Naskah Proklamasi akan menyelenggarakan kegiatan Bincang Publik Daring Bersama Museum " Webinar Ilmu Sejarah Bersama Pakar" dengan tema " Pertempuran Bogor-Sukabumi-Cianjur 10 Maret 1946" yang akan dilaksanakan pada :

.

Rabu, 10 Maret 2021

Pukul 13.00 - 15.00 WIB


Batas Pendaftaran : 8 Maret 2021 Pukul 17.00 WIB


Pembicara:

- Dr. Lelly Qodariah, M.Pd (Sejarawan Uhamka)

- Hendi Johari (Jurnalis Historia.id)


Moderator:

Sufiyanto, B.A. (Komunitas Reenactor Bangor)


- Tautan pendaftaran : https://s.id/PakarSejarahEps5 , scan QR Code atau buka tautan link.tree di bio

- Tautan Zoom Meeting akan diberikan H-1

- Gratis materi & e-sertifikat untuk seluruh peserta

- Tersedia media promosi menarik untuk peserta yang beruntung

- Live Streaming di Youtube Museum Perumusan Naskah Proklamasi


#munasprok #webinar #ilmusejarah #kelasdaring

Langkah Responsif Kemendikbud Hadapi Tantangan Pendidikan di Masa Pandemi

Sejak pertengahan Maret 2020, Presiden Joko Widodo telah menetapkan kondisi darurat Covid-19 dengan menghimbau masyarakat untuk melakukan aktifitasnya dari rumah seperti bekerja, belajar hingga beribadah. Instruksi presiden tersebut ditanggapi oleh seluruh kementerian dengan mengeluarkan berbagai kebijakan.

Untuk mendukung kebijakan belajar dari rumah, Kemendikbud mengeluarkan program pembelajaran daring (dalam jaringan) melalui portal rumah belajar menggunakan koneksi internet. Terdapat pula proses pembelajaran melalui siaran radio hingga televisi untuk SD, SMP, SMA/SMK.

Setelah berjalan selama 3 bulan, program belajar dari rumah mendapat banyak sorotan dari masyarakat. Hal ini disebabkan masyarakat menilai proses belajar dari rumah tidak cukup efektif. Berbagai kendala saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) muncul, mulai dari tidak meratanya infrastruktur penunjang PJJ di seluruh daerah, beban penyelesaian kurikulum yang tidak diimbangi dengan waktu mengajar yang cukup. Belum lagi sulitnya komunikasi antara guru dan orang tua siswa sebagai mitra PJJ.

Peranan orang tua siswa turut menentukan keberhasilan proses PJJ. Orang tua siswa diharuskan mendampingi anak-anak mereka selama PJJ berlangsung. Sedangkan tidak semua orang tua dapat melakukannya karena harus mengerjakan tanggung jawab yang lainnya. Selain itu orang tua juga dituntut mampu memotivasi anak-anak mereka dikala rasa stress dan jenuh melanda siswa akibat banyaknya tugas yang diberikan oleh bapak ibu guru.

Kemendikbud bergerak cepat merespon isu tantangan pendidikan tersebut. Ada dua kebijakan baru yang telah diluncurkan. Pertama, pemberlakuan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) untuk jenjang SD, SMP, SMA/SMK. Kurikulum darurat dapat dipahami sebagai penyederhanaan kompetensi dasar pada kurikulum 2013 yang berfokus pada kompetensi mendasar dan kompetensi prasyarat (setiap mata pelajaran) untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Kurikulum darurat akan berlaku sampai akhir tahun ajaran. Artinya, meski pandemi covid-19 selesai sebelum akhir tahun ajaran 2020-2021, kurikulum darurat tetap digunakan.

Kebijakan Kurikulum Darurat

               Sosialisasi Kebijakan Kurikulum Darurat melalui kegiatan Webinar oleh Dirjen GTK

Kurikulum darurat juga bersifat fleksibel bagi setiap sekolah. Kemendikbud memberikan kebebasan kepada sekolah untuk memilih (berdasarkan situasi masing-masing sekolah) apakah tetap menggunakan kurikulum 2013, beralih menggunakan kurikulum darurat atau menyederhanakan kurikulum secara mandiri. Pemberlakuan kurikulum darurat secara langsung memberikan kelonggaran beban mengajar bagi guru. Karena guru tidak lagi terbebani untuk menuntaskan semua kompetensi dasar.

Kebijakan responsif kedua adalah bantuan modul pembelajaran dan asesmen untuk mendukung pelaksanaan kurikulum darurat. Modul pembelajaran difokuskan pada jenjang PAUD dan SD yang dianggap paling terdampak pandemi Covid-19. Modul pembelajaran di tingkat PAUD dijalankan dengan prinsip merdeka belajar (bermain adalah belajar). Sedangkan jenjang SD difokuskan pada kompetensi literasi, numerasi dan kecakapan hidup.

Modul pembelajaran kurikulum darurat tidak hanya ditujukan bagi guru dan siswa tetapi juga orang tua. Kemendikbud berharap orang tua siswa mendapat panduan saat mendampingi anak-anak mereka, sekaligus mengurangi tingkat stress bagi orang tua dan siswa selama PJJ berlangsung.

Proses asesmen oleh guru secara berkala merupakan bagian penting lainnya untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan 2 kebijakan baru tersebut. Asesmen terbagi menjadi dua, asesmen kognitif (untuk mengukur kemampuan dan pencapaian belajar siswa) dan non-kognitif (untuk mengukur aspek psikologis dan emosional siswa).

Kemendikbud juga mengajak semua pihak yang berkepentingan dalam dunia pendidikan Indonesia untuk berkontribusi demi keberhasilan anak-anak untuk terus belajar dengan sehat dan selamat di masa pandemi Covid-19. 

Mohammad Natsir : Berkompetisi Tanpa Caci Maki

Mohammad Natsir : Berkompetisi Tanpa Caci Maki

LATAR BELAKANG


Usia demokrasi Indonesia telah menginjak 73 tahun. Bukan perjalanan yang singkat, mengingat sistem demokrasi Indonesia telah mengalami beberapa kali pergantian. Pada masa Reformasi, demokrasi yang dianut adalah Demokrasi Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai luhur pengalaman, sejarah dan jati diri Bangsa Indonesia.

Harus diakui jika pelaksanaan demokrasi di Indonesia masa kini jauh dari ajaran Pancasila, bahkan sangat jauh. Hal ini dipengaruhi oleh pemahaman para pelaku demokrasi Pancasila itu sendiri. Perbedaan pendapat dianggap sebagai pengkhianatan, tidak adanya kompetisi yang sehat, penghormatan antara yang kalah dan menang, semangat saling mendukung yang dilandasi saling percaya. Pelaksanaan demokrasi yang demikian akan membuka peluang ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Pancasila untuk berkembang seperti, radikalisme, separatisme, sektarianisme, hingga terorisme. Rakyat Indonesia saat ini membutuhkan tokoh yang dijadikan panutan dan teladan khususnya dalam kehidupan berdemokrasi seperti Mohammad Natsir.


Mohammad Natsir : Berkompetisi Tanpa Caci Maki


SEKELUMIT KISAH PERJUANGAN


Mohammad Natsir dikenal santun, sederhana, dan toleran, konsisten menempuh jalan demokrasi bersama rekan-rekannya di Masyumi. Natsir adalah satu dari sedikit tokoh Islam di awal republik yang tidak gagap akan gagasan demokrasi. Dia bergaul dengan tokoh-tokoh Katolik, Kristen, dan Komunis. Natsir memberi teladan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh memecah persatuan. Pluralisme bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan, melainkan diamalkan.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Muhammad Natsir dan Soekarno dalam beberapa episode. Pertama, di penghujung tahun 1930, ketika Natsir mendukung Islam sebagai dasar Negara Indonesia, sedangkan Soekarno menjagokan Nasionalisme. Tidak pernah ada kesepakatan di antara keduanya berkaitan dengan polemik itu, tapi keduanya saling mengagumi lawannya. Kedua, tatkala Persatuan Indonesia dalam kondisi dipecah belah oleh Belanda akibat penerapan Republik Indonesia Serikat. Soekarno sebagai presiden sedang menghadapi pertikaian partai politik. Natsir bersama Masyumi menyodorkan alternatif jalan keluar yang kemudian dikenal dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan.

Demi menyelamatkan Indonesia dari komunisme, Mohammad Natsir yang dikenal santun tidak dapat menghindarkan dirinya dari aksi pemberontakan. Dia bergabung dengan PRRI/Permesta akibat kekecewaan terhadap Bung Karno yang semakin memihak PKI. Konsistensi pemikiran dan tindakan tetap ditunjukkannya pada masa Presiden Soeharto, ketika dia melihat gelagat buruk Istana, ia bersama tokoh lainnya menandatangi Petisi 50, yang membuatnya menjadi musuh pemerintah. Soeharto memang tidak memenjarakannya, tapi membuat dunia Natsir menjadi sempit dan mendapat pencekalan.

NILAI-NILAI PERJUANGAN


Mohammad Natsir meninggal dunia pada 1993. Kisah hidupnya cukup panjang, dibalik itu semua, ada nilai-nilai keteladan yang dapat kita petik. Sikap menghargai perbedaan pendapat, anti komunis, santun dalam tutur kata, konsisten, bersih dari korupsi, tidak mementingkan kepentingan kelompoknya, karena persatuan Indonesia adalah tujuan utamanya.

Sumber : Seri Buku Saku Tempo Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan - Natsir (Politik Santun di antara dua rezim)

Abstrak A.R. BASWEDAN : MENENUN KEBANGSAAN PERANAKAN ARAB-INDONESIA

Abstrak A.R. BASWEDAN : MENENUN KEBANGSAAN PERANAKAN ARAB-INDONESIA

Latar Belakang

Di dalam komunitas peranakan Arab di Indonesia terdapat 2 golongan yang saling berseteru yaitu golongan Sayid (keturunan Nabi) dan Non-Sayid. Kedua golongan ini kemudian mengorganisasikan dirinya ke dalam Ar Rabitah (sayid) dan Al Irsyad (non sayid). Perseteruan keduanya tidak hanya terjadi seputar masalah adat istiadat, tradisi, sosial bahkan merembet hingga urusan politik.

Perpecahan dalam peranakan Arab di Indonesia semakin menjauhkan mereka dari arus pergerakan nasional. Perseteruan yang tidak ada habisnya dan tidak teratasi itu, membuka mata seorang A.R. Baswedan lebih lebar. Pada awalnya, Baswedan termasuk pemuda yang berkobar-kobar semangat kebangsaan kearabannya dan fanatik pada satu golongan : Al Irsyad. Namun seiring diskusi yang ia lakukan bersama dengan berbagai tokoh pergerakan nasional,  cara berpikirnya terus bergerak dinamis hingga mengalami "revolusi pikiran".



Tercetuslah ide mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI). Demi mewujudkan cita-citanya itu, Baswedan rela melepas pekerjaannya sebagai jurnalis dengan penghasilan 25 gulden sebulan, padahal ia sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Riwayat Perjuangan

Langkah awal yg ditempuh Baswedan adalah membuat kompromi antara Al Irsyad dan Ar Rabitah dengan tidak menyebutkan "sayid" tetapi diganti memakai sebutan "saudara" ketika kedua-duanya bertemu dan bercakap-cakap. Selanjutnya, ia mengunjungi tokoh-tokoh Al Irsyad dan Ar Rabitah yang ada di kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Semarang hingga Jakarta (Batavia) untuk berdialog tentang komprominya tersebut.

Setelah Baswedan mendapat dukungan dari berbagai tokoh keturunan Arab. Ia kemudian mengadakan konferensi keturunan Arab pada tanggal 3-5 Oktober 1934 di Semarang.  Hasil konferensi itu menggemparkan keturunan Arab seluruh Indonesia dengan diucapkannya "Sumpah Pemuda Keturunan Arab" yang memuat tiga butir pernyataan : (1) Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia (2) Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (3) Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah-air dan bangsa Indonesia. Tampak jelas bahwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 mengilhami Baswedan dan mereka yang hadir dalam hari yang bersejarah itu sebagai lahirnya Persatuan Arab Indonesia. Dalam perkembangannya akan berevolusi menjadi Partai Arab Indonesia.

Perjuangan PAI di bawah Baswedan merupakan salah satu kekuatan melawan pemerintah kolonial Belanda. Saat GAPI berdiri tak lama pun, PAI diterima menjadi anggota penuh. Ketika GAPI menyelenggarakan "Indonesia Berparlemen", beberapa pemimpin PAI dipercaya memimpin konferensi gerakan itu, seperti Baswedan di Pekalongan dan Alatas di Serang. Pada masa pendudukan Jepang, PAI bernasib sama dengan organisasi pergerakan nasional lainnya yang dibubarkan lantaran adanya larangan berorganisasi selain organisasi bentukan Jepang. Baswedan tak patah arang. Ia tetap berkontribusi dengan menjadi anggota BPUPKI yang nantinya akan mendapat kehormatan selaku Founding Fathers (Bapak Bangsa) karena merancang konstitusi negara Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Baswedan berturut-turut terus menunjukkan baktinya untuk negeri seperti menjadi anggota KNIP, Menteri Muda Penerangan kabinet Syahrir (Baswedan berjasa dalam upaya mendapatkan pengakuan kemerdekaan Indonesia pertama kali dari bangsa Mesir pada tahun 1947), anggota parlemen hingga duduk di dewan konstituante. Saat usianya tak lagi muda, Baswedan mengisi sebagian hidupnya untuk aktifitas keagamaan, kemasyarakatan maupun hidup bernegara. Ia juga masih mencurahkan pikirannya untuk perjuangan di bidang dakwah. Baswedan berpulang ke Rahmatullah tanggal 15 Maret 1986.

Abstrak A.R. BASWEDAN : MENENUN KEBANGSAAN PERANAKAN ARAB-INDONESIA

 Nilai-nilai Perjuangan 

Melalui sekelumit kisah perjuangan A.R. Baswedan di atas, dapatlah kita peroleh nilai-nilai perjuangannya : (1) Nasionalisme, berangkat dari kesadaran jika peranakan Arab juga bagian dari masyarakat Indonesia, Baswedan mengajak golongannya untuk mengakui tanah air mereka adalah Indonesia bukan Hadramaut. (2) Optimisme, meski pembaruan pikiran yang digagas oleh Baswedan mendapat banyak keraguan dan tentangan dari peranakan Arab, ia terus maju dan tidak mau menoleh ke belakang. Menurutnya, cita-cita itu perlu diperjuangkan!

Kata Kunci : Peranakan Arab, Nasionalisme, Optimisme 

Sumber :

Suratmin dan Didi Kwartanda. Biografi A.R. Baswedan (Membangun Bangsa Merajut Keindonesian)

Back To Top