Blog pribadi untuk mendukung proses belajar sejarah bagi Guru dan Siswa Sekolah di Indonesia. Konten Blog berisikan Informasi, Soal dan Materi Sejarah

Jenderal Gatot Subroto - Pemimpin MIliter Tiga Zaman

Jenderal Gatot Subroto adalah salah satu pahlawan kemerdekaan Indonesia. Ia lebih dikenal sebagai seorang prajurit yang berani berhadapan dengan bangsa penjajah dan bersimpati kepada rakyat bumiputera. Gelar pahlwannya dikukuhkan pemerintah melalui SK Presiden RI No. 222/1962.
Foto Jenderal Gatot Soebroto
(sumber : http://uppedia.blogspot.com)

Seperti halnya Agus Salim, Sam Ratulangi dan Abdul Muis, ia aktif berjuang untuk Indonesia hingga tiga masa (penjajah, pendudukan, kemerdekaan). Selama itu pula telah banyak kontribusi yang diberikan olehnya, khususnya dalam dunia militer Indonesia.

Sehingga melalui tulisan singkat di bawah ini, saya ingin berbagi pengetahuan tentang kisah perjuangan Jendral Gatot Subroto semasa hidupnya.

Biografi Singkat Jenderal Gatot Subroto 


Pada tanggal 10 Oktober 1907, di sebuah desa Jatilawang, Banyumas, lahir seorang anak laki-laki bernama Gatot Subroto. Ia adalah anak pertama dari Sayid Yudoyuwono. Total saudara kandunganya ada 7 orang.

Istrinya bernama Supiah Binti Wangsadikarta. Dari pernikahannya, ia bersama istrinya dikaruniai 6 orang anak. Nama keenam anaknya sebagai berikut :

  1. Nining Indratati, 
  2. Nunung Indratati, 
  3. Bambang Sujono, 
  4. Kuncoro, Bambang 
  5. Utoro, 
  6. Cahyo  
Pada tanggal 11 Juni 1962, ia meninggal dunia di Jakarta. Jenasahnya dimakamkan di Ungaran, Semarang.

Pendidikan Gatot Subroto


Ia menempuh pendidikan awalnya di ELS (Europeesche Lagere School). Dibalik kesempatan bersekolah di ELS, ada peranan Bupati Banyumas yang membantunya.

Semasa bersekolah di ELS, ia pernah berkelahi dengan anak residen Belanda. Perkelahian itu terjadi karena Gatot Subroto membela teman-temannya sesama bumiputera yang seringkali mengalami diskriminasi namun tidak berani melawan.

Karena perkelahian itu, ia mendapat hukuman fatal dari kepala sekolah ELS yang akhirnya mengeluarkannya dari sekolah dan diperberat dengan tidak diperbolehkannya ia bersekolah kembali di sekolah pemerintah kolonial lainnya.

Keluarganya prihatin akan kondisi yang sedang dihadapinya, namun mereka tidak berdiam diri saja. Beruntunglah ia karena ada seorang saudaranya yang mengajar di HIS (Hollandsch Inlandsche School) mau menerima dirinya untuk melanjutkan pendidikan dasar.

Gatot Subroto akhirnya menyelesaikan pendidikan dasarnya, namun ia tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya karena lebih memilih untuk bekerja sebagai seorang pegawai. Seringkali gaji yang diterimanya sebagai pegawai disumbangkan untuk membantu rakyat kecil.

Masa kerjanya sebagai pegawai tidak berlangsung lama karena tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerjanya.

Karir Militer : dari KNIL, PETA hingga TNI


Pada tahun 1938 saat usianya genap 21 tahun, Gatot Subroto mendaftarkan diri pada sekolah kemiliteran pemerintah kolonial di Magelang. Kurang lebih 3 tahun mendapat pendidikan militer, ia berhasil lulus dan diangkat menjadi sersan II KNIL (Koninklijk Nederlands lndische Leger).

Tugas pertamanya dijalani di Padang Panjang, Sumatera Barat. Setelah lima tahun bertugas di sana, kemudian ia dikirim ke Sukabumi, untuk mengikuti pendidikan militer lanjutan pangkat marsose. Selesai pendidikan, ia ditempatkan di Bekasi dan Cikarang.

Bekasi dan Cikarang merupakan lokasi dimana banyak terjadi pencurian dan penggarongan yang akibatkan praktek lintah darat. Rakyat terpaksa mencuri untuk mendapatkan sesuap nasi, namun hukum tetap harus ditegakkan dan Gatot Subroto tanpa pandang bulu menangkap pencuri itu, meskipun dalam hatinya ia merasa iba dengan kondisi masyarakat bumiputera.

Tidak jarang gaji yang diterima selama menjadi tentara KNIL, ia sisihkan untuk membantu manyarakat bumiputera di tempat ia bertugas. Kondisi itu sungguh bertentangan dengan aturan yang berlaku di kesatuan KNIL di mana tentara pemerintah kolonial harus bisa menjaga jarak dengan masyarakat bumiputera. Akbiat tindakannya itu, ia sering mendapat teguran dari atasannya.

Pada tahun 1939, kondisi keamanan dunia sedang bergolak, karena terjadinya perang dunia II yang melibatkan beberapa negara besar termasuk Belanda. Dalam upayannya menjaga daerah Hindia Belanda, diperintahkan tentara KNIl untuk mempertahakan wilayah Belanda dan Gatot Subroto selaku marsose ditugaskan ke Ambon.

Pertempuran dengan Jepang tidak terelakkan dan Belanda kalah. Kekalahan Belanda menandai perpindahan kekuasaan Hindia Belanda ke tangan Jepang.

Kemampuan dan pengalaman yang dimiliki Gatot Subroto membuat Jepang tertarik. Ia ditawari menjadi kepala Detasemen polisi, dan tawaran itu diterimanya. Setelah resmi menjabat, tidak lama ia dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan militer untuk pangkat komandan kompi PETA (Pembela Tanah Air).

Selesai pendidikan ia diangkat menjadi cudanco untuk wilayah Banyumas. Pangkat komandan kompi pun tidak lama dijabatnya, karena kemampuan dan pengalamannya dibutuhkan untuk urusan yang lebih besar, akhirnya ia diangkat menjadi komandan batalyon.

Sikap simpati kepada rakyat bumiputera dan bawahannya pun tidak hilang meskipun ia berstatus komandan Batalyon PETA. Sikap ini yang membuatnya sering beradu argumen dengan atasanya, namun akhirnya sikap Gatao Subroto itu bisa dimaklumi oleh atasannya.

Ketika Indonesia merdeka, ia mampu merebut kekuasaan kepolisian di Purwokerto dan ia pun diangkat menjadi komandan polisi di Purwokerto untuk mengamankan wilayah tersebut.

Bersama dengan Kol. Sudirman, ia mengusulkan untuk dibentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Setelah pemerintah membentuk TKR di Banyumas, Kol. Sudirman diangkat menjadi Komandan dan dirinya diangkat menjadi Kepala Siasat, kemudian menjadi Panglima divisi II Purwokerto.

Pada saat meletusnya pertempuran Ambarawa 1945, pemimpin Gatot ditugaskan di front pertempuran. Bersama dengan Kol. Soedirman, pemimpin Gatot berhasil mengkomandoi pasukan TKR untuk memaksa mundur tentara sekutu hinga ke luar Ambarawa, Semarang.

Pada saat Agresi Belanda I dimulai, Kolonel Gatot Subroto sedang menjabat sebagai Panglima Divisi II Sunan Gunung Jati datang ke Bnajarnegara untuk melakukan perlawanan kepada pasukan Belanda. Sleanjutnya ia memerintahkan untuk membentuk kantong-kantong gerilya disekitar kota-kota yang sedang dikuasai oleh sekutu, upayan ini berbuah hasil untuk melawan agresi militer Belanda.

Saat terjadi pemberontakan PKI di Surakarta pada bulan September 1948, Kolonel Gatot Subroto ditunjuk pemerintah Indonesia Gubernur Militer wilayah Surakarta dan sekitarnya untuk mengatasi keadaan negara yang kacau. Dia berhasil mengusir para pemberontak keluar dari Surakarta.


Di masa senjanya, kepemimpinanya tetap dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, ia resmi ditunjuk menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dengan tugas mengurus Urusan dalam Angkatan Darat.


Selama menjabat posisi itu, ia sangat konsern pada pendidikan militer, untuk mewujudkan pemikirannya itu, ia mendirikan AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang bertujuan mendidik para pemuda untuk menjadi pimpinan di bidang militer di masa depan.

Demikian yang dapat saya bagikan kepada sobat terkait kisah singkat Jendral Gatot Subroto. Semoga bermanfaat bagi proses belajar sejarah sobat dan terima kasih atas kunjungannya.

Salam Historia!

Sumber Referensi :

https://sejarah-tni.mil.id/2017/03/18/jenderal-gatot-soebroto/

https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/31880/NzE5Nzk=/Peranan-Kolonel-Gatot-Subroto-Pada-Masa-Darurat-Militer-Di-Surakarta-Tahun-1947-1950-4.pdf
Labels: pahlawan

Thanks for reading Jenderal Gatot Subroto - Pemimpin MIliter Tiga Zaman. Please share...!

0 Comment for "Jenderal Gatot Subroto - Pemimpin MIliter Tiga Zaman"

Back To Top